PT Nurinda Perkuat Eksistensi di Industri Kelistrikan : STRATEGI DAN TANTANGAN DI PASAR DOMESTIK DAN INTERNASIONAL

Pasar Timur Tengah juga menjadi fokus ekspansi, terutama karena negara-negara seperti Arab Saudi tengah mengembangkan infrastruktur kelistrikannya secara besar-besaran. (Foto instgram @pt_nurinda)

nasional

PT Nurinda Perkuat Eksistensi di Industri Kelistrikan : STRATEGI DAN TANTANGAN DI PASAR DOMESTIK DAN INTERNASIONAL

“Konsep TKDN di Indonesia masih lebih menekankan pada nilai rupiah daripada proses industrinya. Hal ini memungkinkan adanya pedagang besar yang menyamar sebagai produsen tanpa melakukan proses industri di dalam negeri. Akibatnya, industri local kesulitan
 

Industri kelistrikan di Indonesia terus berkembang seiring dengan meningkatnya kebutuhan infrastruktur dan energi. Salah satu pemain utama di sektor
ini, PT Nurinda, semakin mengukuhkan eksistensinya dengan strategi bisnis yang adaptif dan ekspansi ke pasar global.

Direktur PT Nurinda, Suwardi Setiawan, menegaskan perjalanan perusahaan dalam industri kelistrikan mengalami berbagai perubahan signifikan sejak awal berdiri. “Pada tahun 2001, kami mulai beralih ke produksi panel listrik setelah terdampak krisis moneter. Alhamdulillah, pada tahun 2006 kami resmi menjadi PT Nurinda, dan sejak itu fokus utama kami tetap pada sektor kelistrikan,” ujarnya.

Sebagai bagian dari industri infrastruktur yang vital, PT Nurinda terus menyesuaikan strategi bisnisnya agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Dalam beberapa tahun terakhir, tren Energi Baru dan Terbarukan (EBT) menjadi salah satu perhatian utama perusahaan, mengingat upaya global untuk mengurangi emisi karbon.

Namun, Suwardi juga menyoroti tantangan dalam pengembangan energi hijau di Indonesia. “Saat ini industri hijau sedang mengalami perlambatan, terutama karena negara-negara besar seperti Amerika mulai kembali ke energi berbasis fosil. Indonesia sendiri masih memiliki carbon footprint yang relatif rendah, jadi kita harus hati-hati dalam mengelola transisi energi ini,” jelasnya.

Menurutnya, meskipun PT Nurinda mulai masuk ke industri EBT, mereka tetap mempertahankan bisnis di energi berbasis fosil karena permintaan yang masih tinggi. “Kami mengikuti kemauan pasar. Saat ini, batu bara masih menjadi sumber energi utama di Indonesia, dan selama transisi ke energi hijau masih berjalan, kita tidak bisa mengabaikannya,” tambahnya.

Dalam menghadapi tantangan industri, PT Nurinda tidak hanya fokus pada pasar dalam negeri tetapi juga mulai merambah ke pasar internasional, khususnya di Timur Tengah dan Asia Tenggara. “Di sisi lain, pasar domestik masih berkembang pesat, terutama di wilayah timur seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Namun, kami juga melihat peluang besar di luar negeri, seperti Arab Saudi, Oman, dan Filipina,” ungkap Suwardi.

Di Filipina, PT Nurinda melihat celah pasar karena standar kelistrikan negara tersebut lebih condong ke standar Amerika (NEMA), berbeda dengan Indonesia yang mengacu pada standar Eropa (IEC). “Ini menjadi peluang karena perang dagang antara Cina dan Amerika memberi kesempatan bagi produsen lain, termasuk kami, untuk masuk ke pasar yang sebelumnya didominasi oleh produk dari Cina,” jelasnya.

Sementara itu, pasar Timur Tengah juga menjadi fokus ekspansi, terutama karena negara-negara seperti Arab Saudi tengah mengembangkan infrastruktur kelistrikannya secara besar-besaran. “Perkembangan kelistrikan di Arab Saudi hampir setara dengan seluruh Indonesia, padahal penduduk mereka jauh lebih sedikit dibanding kita. Ini menunjukkan betapa besarnya peluang yang bisa kita manfaatkan,” tambahnya.

Dukungan dan Tantangan

Dalam upayanya mengembangkan bisnis, PT Nurinda juga bekerja sama dengan Asosiasi Produsen Peralatan Listrik Indonesia untuk mendapatkan dukungan dari pemerintah. Salah satu isu yang menjadi perhatian utama adalah keamanan siber
dalam industri manufaktur.

“Saya baru saja berdiskusi dengan Badan Sandi dan Siber Nasional (BSSN) mengenai ancaman siber di sektor industri. Ini sangat penting karena serangan siber
bisa mengancam stabilitas ekonomi dan infrastruktur, seperti yang terjadi di Amerika pada sektor minyak dan air minum mereka,”
ujarnya.

Selain keamanan, PT Nurinda jugamenyoroti perlunya regulasi yang lebih ketat dalam penerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Saat ini, banyak Perusahaan yang memanfaatkan celah dalam aturan TKDN untuk menjual produk luar negeri dengan status produk dalam negeri tanpa melalui proses produksi yang seharusnya.

“Konsep TKDN di Indonesia masih lebih menekankan pada nilai rupiah daripada proses industrinya. Hal ini memungkinkan adanya pedagang besar yang menyamar sebagai produsen tanpa benar-benar melakukan proses industri di dalam negeri. Akibatnya, industri lokal kesulitan bersaing dan hanya menjadi konsumen produk luar,” jelas Suwardi.

Menurutnya, regulasi TKDN seharusnya lebih menitikberatkan pada proses manufaktur, bukan sekadar nilai produk. “Kami berharap ada penyempurnaan aturan agar industri dalam negeri benar-benar terlindungi. Jika tidak, maka lama-kelamaan kita hanya akan menjadi pasar bagi produk impor,” tegasnya. (***)
 

PT Nurinda Suwardi Setiawan Industri kelistrikan

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga :